Fantasi

Sepertinya, wajahku menyala merah mendengar pertanyaan itu terucap dari bibirnya yang merekah. Aku bisa merasakan darahku mendesau bergemuruh kencang. Bahkan, debaran jantungku ketara dapat kudengar. 

Pertanyaan di pagi hari. Senin, bulan April, ketika di luar kelas masih bercucuran air hujan. Ketika, aku baru saja duduk di sudut ruangan melepaskan mantel yang lembab karena hujan, ia datang, tanpa tersenyum dan bertanya dengan lancang,

“Hai, Boleh kulihat tugasmu, tadi malam entah kenapa otakku tak berfungsi dengan benar?”

Ini Ilusi. Katakan ini Ilusi di pagi hari, karena aku sudah terbiasa dengan ilusi yang kuperbuat sendiri. Aku mengatupkan mataku lama lalu membukanya lebar-lebar sampai mungkin aku terbangun dari berbagai dimensi mimpi yang tidak nyata.

‘Hai boleh kulihat tugasmu, tadi malam entah kenapa otakku tak berfungsi dengan benar,?’ sial, aku tak sedang bermimpi. Berarti ini adalah rekor pertamaku, aku tergelak senang. 

Satu kalimat pertama yang secara utuh ia sebutkan langsung kepadaku. Setelah beberapa bulan duduk berjarak dua meja di depanku. Sempurna, setidaknya setelah sekian lama aku berharap ia menyapaku, mengucapkan salam, atau setidaknya melirik kepadaku. Supaya aku yakin ia menyadari kehadiranku dalam hidupnya. Sekarang aku tahu ternyata aku mempunyai peran dalam drama hidupnya, meskipun hanya figuran.

Dan pertanyaan itu tak perlu kujawab, aku yakin dia menyapaku hari ini karena ia tahu kepada siapa ia berbicara. Ia dan teman populernya berpikir, aku adalah orang aneh dan kutu buku yang kurang pergaulan. Hebat sekali, dan pasti aku sudah mengerjakan tugasku.

“Apa kau baik-baik saja.” Ia membungkuk di depan mejaku mengernyitkan keningnya, membuatku bisa merasakan aroma parfum di lehernya yang maskulin, atau sekadar memperhatikan kemejanya yang ketat dan ke arah selangkangannya yang selalu menjadi objek fantasi masturbasi para remaja pubertas sepertiku. 

Aku tak sadar, otakku tak berjalan semestinya untuk melakukan proses dekoding atau enkoding. Semua karena aku terlalu keras berpikir hal diluar konteks. Betul, aku merasa seperti ingin berpikir tapi aku tak memikirkan yang seharusnya, ingin bicara namun tak ada kata-kata yang mungkin mampu mengesankan, hanya kebodohan yang menyala-nyala.

“A’a.. ya? Apa?” Aku mengalihkan mataku dari tubuh indah lelaki ini, tuhan aku sangat bernafsu memiliki makhluk ini. Bahkan, aku tak cukup berani memandang mata hitamnya lebih dari dua detik.
“Tugasmu?” Ia mengulang frasa itu, persis seperti realita.

“Oh, Ya. Ya, tu tu gass.. tugas emm? Tu.. tugas. Maaff” Ia hanya diam bertanya-tanya melihat aku tergagu-gagu. Sial, sekarang dia akan yakin bahwa aku benar-benar terbelakang. Dengan cepat kubuka tasku dan memberikan kepadanya tugas sampah itu.

Aku berdiri, lalu pergi meninggalkan meja itu. Meninggalkannya yang akan mengerti bahwa aku benar-benar bukan orang yang ingin ia dekati. Ternyata tak perduli seberapa gila aku meninginkan seseorang, segila itu juga realita bahwa aku hanya berkhayal. Mungkin hanya dengan cuplikan-cuplikan ketika ia tertawa seksi dan saat ia berkeringat, saat ia menggigit bibirnya yang kenyal, atau ketika ia bicara kotor, sudah cukup mampu membuatku klimaks dalam bermasturbasi. Aku memang pelacur.
SHARE

Milan Tomic

Hi. I’m Designer of Blog Magic. I’m CEO/Founder of ThemeXpose. I’m Creative Art Director, Web Designer, UI/UX Designer, Interaction Designer, Industrial Designer, Web Developer, Business Enthusiast, StartUp Enthusiast, Speaker, Writer and Photographer. Inspired to make things looks better.

  • Image
  • Image
  • Image
  • Image
  • Image
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments: