Taksi



Musim panas tahun ini terasa mengerikan. Panas matahari membakar kulit sampai terasa seperti tusukan-tusukan jarum. Aku benci keluar rumah tahun ini. Mereka bilang panas adalah bahagia, aku tak mengerti, seperti mitologi panas akan membunuh mereka sampai mati.

Jalanan terasa sesak, mobil, truk, sepeda motor, pejalan kaki, mereka terlihat terburu-buru di jalanan sempit ini. Seperti bersaing mengejar waktu, atau mereka tengah dikejar waktu. Dua hal yang tidak jauh berbeda tapi menunjukan siapa yang berkuasa. Wajah mereka bercucuran keringat, penuh curiga dan takut dompet atau perhiasan hilang di jalanan ini, atau hanya takut pada diri sendiri.

“Bisa sampai ke Hotel Jam 5?” Sopir taksi berseragam biru melirik jam tangannya menunjukan pukul 04:18. Wajahnya seperti menunjukan kecemasan pada argo yang bergerak melambat, atau bahkan bergerak turun.

“Ya, mungkin saja kalau di jalur selatan tidak macet.” Jawabnya singkat.

Jalanan ini masih sibuk, mungkin ia sudah muak dengan kesibukan ini. Jalan yang cukup sederhana, ia mungkin menginginkan malam datang cepat, agar hanya sedikit yang berlalu-lalang dengan masalah sampah. Dan aku, aku hanya ingin sampai ke tujuanku segera. Karena aku sudah telat hampir satu jam, dan orang yang membuat janji denganku sedang kesal berada di kamar hotel itu.

“Koran..?”

Kaca mobil taksi yang terbuka menjadi peluang bagi si penjual koran untuk menjajahkannya kepadaku: koran sampah. Berisi berita yang lagi-lagi tak penting untuk kubaca, karena tulisan-tulisan sampah media ini yang sama sekali tak skeptis dan haus pada penggandaan uang.

“Koran, Mas?” Penjual koran dengan topi coklat, memberikan korannya. Aku bukan pembaca. Dan sekarang, aku sedang tak ingin beramal.

Kusimpulkan senyum kecil dan sungkan kepadanya, pertanda bahwa aku mengecewakannya. Maaf aku bukan penggemar media tradisional itu.

Taksi ini bergerak bagai merangkak. Di jalanan yang begitu padat. Sial. Ada apa dengan semua orang ini, kenapa mereka pulang dan pergi bersama-sama. Termasuk aku yang disulitkan.

“Mas?” Sopir taksi bertanya kepadaku dan mendelikan matanya pada kaca depan.
“Tidak apa-apa pak, semua masih tentang kehidupan.”
“Menurutmu mengapa semua orang ini terlihat takut dan terburu-buru?” Pertanyaan yang tak pernah aku pikirkan jawabannya, walaupun aku selalu mempertanyakannya.

“Saya tidak tahu, mungkin karena mereka dikendalikan oleh ilusi bahwa mereka takut dan terlambat.”
“Apakah benar seperti itu?”

“Tidak ada komentar. Selain saya tidak takut apapun, dan saya tidak terburu-buru, bagaimana bisa?”
“Jadi menurut anda saya takut pada argo? Lalu anda tak takut pada seseorang di kamar hotel?” Ia menoleh sebentar kepadaku, lalu berfokus pada jalanan lagi seraya tersenyum.

Ia bertanya seperti mengerti, aku sedang membaca pola hidup seorang sopir taksi yang secara lancang kusimpulkan bahwa ia takut pada argo yang bergerak melambat lalu mundur, padahal argo sedang baik-baik saja, bahkan angka rupiah seperti melesat di sana.

“Saya tidak berpikir begitu, atau mungkin saya benar-benar tidak mengerti makna ketakutan itu sendiri. Orang di kamar hotel bukan siapa-siapa hanya seorang yang kesepian.”

“Saya pikir anda tahu banyak hal, dan saya tidak. Lalu mengapa anda tidak membeli koran pada lelaki bertopi coklat?”

Benar mengapa aku tidak membeli koran pada lelaki bertopi coklat.
“Bisakah anda percepat tujuan saya? Karena saya bosan dengan ocehan lelaki bertopi coklat, baiklah mungkin nanti saya akan datangi lelaki bertopi coklat itu dan membeli korannya, apa anda sudah selesai bicara, dan tolonglah tambah kecepatan, saya sudah ingin mati.”

Sopir taksi itu tersenyum dan mempercepat laju taksi berwarna kuning ini di jalanan yang sudah sedikit terurai di persimpangan jalur selatan.

“Mengapa anda terburu-buru? Bukankah anda bukan manusia yang perlu terburu-buru.” Sopir taksi itu bertanya lagi dengan kasar dan tersenyum.

“Anda siapa? Anda seperti bukan sopir taksi yang baik.”
“Apa ukuran baik?”
“Setan, saya ingat tidak ada ukuran kebaikan di dunia ini. Apa anda sudah puas?”
“Mengapa anda berbicara kasar kepada saya? Apa karena argo yang bergerak?” 

“Anda yang sedang kasar kepada saya. Argo, Lebih baik kamu simpan omonganmu di bangku kuliah.” Aku menyerangnya dengan kasar lagi, lalu berpaling pada skenario yang dibuat oleh jendela taksi. Bingung apakah sopir taksi ini tersakiti dan apakah seseorang di kamar hotel itu juga gelisah.
“Tebakan baik, saya memang sedang kuliah.”
“Benarkah? Oh, haha. Tak heran kalau begitu pak sopir.” Aku tertawa mengejeknya, dia hanya tersenyum.

“Namaku Argo.”
“Sialan”
“Bukan siapa-siapa. Hanya manusia yang memiliki jalan cerita.”
“Dan seorang sopir taksi yang bawel, bagus sekali pak.”
“Argo.” Ia memaksa
“Ya, Argonya bergerak. Brengsek.”

Lelaki yang mengaku bernama Argo telah masuk ke dalam jalan cerita. Seorang sopir taksi yang menginterupsi di Jalanan karena pelanggannya yang terlihat penat pada kehidupan.
“Berapa usiamu?” Aku bertanya penasaran.
“Tebak.”
“25 atau 26?” Untuk wajah lelaki dewasa yang belum terlalu mengerti keseluruhan hidup tapi sudah terlalu dewasa untuk tidak memikirkan keseluruhan hidup.

“Tidak, aku 22.” Jawabnya tersenyum, lalu ia kembali berkonsentransi memutar dan mengendalikan setir mobil itu, dan menyalakan musik pop disana. Seperti, ia baru saja mendapatkan teman sore itu dan mencoba menghiburnya yang tengah bingung pada konsep waktu.
“Aku tidak percaya, kau terlalu tua untuk usia 22 tahun.” 

“Kau punya pilihan, sekarang aku berada di tahun ketiga kuliah, sebentar lagi aku akan memulai konsep baru tentang kehidupan.”
“Oh, ya. Saya memilih untuk tidak percaya karena saya manusia yang bebas.” Aku tersenyum sinis.
“Kamu? Maaf, menurutmu ini terlalu formal bukan untuk menggunakan kata ‘saya’ dan ‘anda’?”
“Itu tergantung, menurutku.”
“Sempurna, Kamu?”
“Kamu? Maksudmu?” Aku mengernyit dia hanya menggeleng.
“Nama?”
“Apalah arti sebuah nama, Argo?” 

“Haha. Shakespeare.” Ia tertawa kecut, sekecut waktu yang bergulir pada senja sementara cahaya oranye nampak seperti garis-garis saja.

“Baiklah, namaku Dunan.” Omongkosongku berotasi.
“Dunan, namamu bagus.” Pujian yang tidak perlu kudengar, karena tidak ada nama yang bagus atau yang nama yang jelek. Semua hanya simbol yang mencoba membentuk orang dengan kata-kata sebelum tahu makna itu sendiri. Bukan makna yang memang telah ada. Nama diberikan sebelum orangtua tahu akan jadi seperti apa anaknya, bukan diberikan setelah anak menjadi makna akan sesuatu. 

“Namamu juga terlihat begitu.” Aku tertawa lagi mengejeknya. Seperti yang seharusnya, ia tetap berkonsentrasi pada setir mobil itu. Alunan lagu pop berganti lagu rock. Membakar suasana dingin dalam kabin taksi yang sudah lama dingin. Sesekali ia memperhatikanku lewat kaca spion, lelaki muda bermata coklat dengan rambut hitam yang gelap.

“Hey, Apa yang kamu lakukan?” Ia tampak penasaran dan menatapku lagi setiap kali ia berkata serius atau aku berkata serius. Seperti bukan hanya sengaja mengurangi ketidakpastian sesama orang asing, bukan juga basa-basi.

“Saya penulis.”Aku mengatakannya seperti malu.
“Benarkah? Aku menyukai penulis. Sepertinya aku ingin menjadi penulis, jadi apa yang kamu tulis Dun?”
“Dun? Belum ada orang yang memanggilku seperti itu. Kamu tahu, aku masih penulis jalanan, yang menerbitkan tulisan pada blog atau kertas recycle. Tapi, aku masih bergulat dengan novel pertamaku, meskipun aku belum sebagus itu.”
“Itu bagus, aku tak sabar menunggu tulisanmu tersebar di setiap toko buku di sudut kota ini”
“Terima kasih, aku menghargai itu, tapi itu tidak akan pernah terjadi.”
“Mengapa Dun?”
“Tidak apa-apa.”

Aku kembali menutup diskusi mengenai seputar tulisan dan karis menulisku. Semuanya berantakan. Aku pikir aku tidak akan menulis lagi, karena sungguh aku tidak menemukan satupun ide bagus untuk kutulis, atau bahkan sama sekali aku tak punya bakat untuk menulis.

Sudah 2 tahun aku intensif berada di jurusan jurnalisme, tapi tetap tidak ada yang menarik ditulisanku. Para dosen berkata, tulisanku tak sesuai dengan metode yang mereka ajarkan. Bangsat, aku membenci diriku sendiri untuk hal ini, lagipula metode yang mereka berikan sangat kaku dan mengerikan, layaknya aku akan menulis kitab suci agama baru.

“Dengar Argo, aku tidak mau melibatkanmu dalam masalahku, lagipula kita tidak saling mengenal, walaupun aku tahu kau bisa mendengar.”
“Baiklah, aku mengerti. Tapi, hey, kau boleh sedikit gila sesekali, menceritakan hidupmu pada orang asing yang tidak kau kenal. Bukankah itu menarik?” Mata coklatnya bersinar melihatku dari kaca spion.
“Apa pentingnya untukku?”

“Ayolah, umur berapa? 40? 50? Jangan terlalu serius.” Ia tertawa geli.
“Eit, perhatikan kata-katamu aku baru 20 tahun, ini hanya kurang berguna bukan? Menurutmu?” Aku ragu.

“Maaf Dun, saya pikir di depan akan sangat macet. Jadi, aku tidak bisa jamin kau bisa sampai ke hotel jam 5.”
“Benarkah?” Aku benar-benar sebal pada jalanan jika begini.
Ia melirik jam tangannya yang terlihat bukan jam tangan yang pantas digunakan oleh sopir taksi, berkelas Gucci atau apapun itu, aku tidak begitu peduli.

“Jam 04:52, ini bukan salahku kan? Lagipula tak ada yang bisa kulakukan.” Ia tersenyum dan memperlambat laju mobil karena di depan terlihat padat lagi. Dasar jalanan, maksudku orang yang menggunakan jalanan.

Suara klakson saling berharmoni, kiri klakson, kanan klakson, dan juga teriakan serta sumpah serapah para manusia yang terburu-buru dan takut pada waktu yang tidak mereka dapatkan lagi.
“Oh, sangat menyebalkan ya.” Aku tersenyum masam pada kaca spion agar dia bisa melihat bahwa aku tak sedang baik-baik saja.

“Walaupun kau akan membayarku berkali-kali lipat, tetap tidak ada jalan, semua berakhir.” Ia menoleh kepadaku hingga bisa kulihat mata coklatnya yang tajam, serta alisnya yang berantakan, dengan kemeja biru dan celana jeans. Apa? Sopir taksi berpakain seperti ini?
“Jangan khawatir, sudah kubatalkan, orang yang berada di kamar hotel sudah pergi dan berada di kamar hotel lainnya. Ini salahku”
“Kasian, memang dia siapa?”

“Dia? Bukan siapa-siapa. Hey, apakah tempatmu bekerja membolehkan sopirnya berkemeja biru, celana jeans ketat, sepatu berhak, dan…”

“Bertato di dada?” Ia mengehentikan mobil, lalu membuka kancing kemeja atas. Menunjukan dadanya yang berbulu dengan tato disalah satu sudut dada, tidak terlalu besar, hanya suatu lambang lingkaran yang berakar dan berdaun, dengan center sebuah mata. Sempurna, tatonya sangat indah.
“Apa? Kau benar-benar rules-breaker.” Aku tertawa.

“Dan putting susuku punya anting.” Ia tersenyum, dan menunjukan salah satu putingnya yang memiliki anting menempel di putting susu merah muda itu.

“Hahaha.” Aku tercengang pada fakta bahwa sopir taksi ini luar biasa. Aku bahkan tak sama sekali menghakimi bahwa tato tidak baik atau anting di putting tidak berguna. Aku terpanah pada keseksian itu.

Tapi sebelum kami sempat mengucapkan kata-kata lain, suara klakson dari belakang beruntut-runtut mengutuk mobil taksi yang berhenti seketika di jalanan yang macet ini. Total bajingan.
Ia menginjak gas lagi dan memacu mobil itu dengan tersenyum dan kancing kemeja birunya yang masih terbuka.

Perjalanan ke hotel bersama sopir taksi ini seperti tidak terlalu mengerikan di musim panas ini, setidaknya aku memahami ada cerita dan sudut pandang yang berada di luar pemikiranku.

Ia memacu laju taksi di tengah kerumunan dan kepadatan jalan raya, bercerita tentang hal-hal non commonsense atau commonsense lainya.
Sementara aku hanya tertawa dan menanggapi.

Inilah realitas .
Aku terpaku memandang kekokohannya dan bersandar, berharap macet di jalanan ini bertambah parah, dan semakin lama aku akan sampai di kamar hotel.

-----
SHARE

Milan Tomic

Hi. I’m Designer of Blog Magic. I’m CEO/Founder of ThemeXpose. I’m Creative Art Director, Web Designer, UI/UX Designer, Interaction Designer, Industrial Designer, Web Developer, Business Enthusiast, StartUp Enthusiast, Speaker, Writer and Photographer. Inspired to make things looks better.

  • Image
  • Image
  • Image
  • Image
  • Image
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments: