Apa kata orang? siapa peduli

Seorang guru pernah berkata kepada muridnya, 
“Nak, selama kamu hidup akan ada orang yang menyukaimu dan berada dipihakmu, namun selama kamu hidup juga, tak semua orang akan menyukaimu dan berada pada pihakmu.”

Sebuah penggalan. Sebuah kutipan. Yang selalu kumain-mainkah. Kuputar-kuputar di otakku, kalau si antagonis menyerang hidupku. Aku saja tak mengerti apa aku ini protogonis atau antagonis? Atau malah figuran dalam cerita.
Seringkali, dalam kehidupan yang penuh akan kriteria dan standarisasi yang terdefinisi secara sosial, kita manusia bermasalah dengan persepsi dan opini orang lain, ingatlah persepsi itu terkadang ada yang membangun pun ada yang membobrokan mental sampai dasar tak terukur sakitnya. 

Pernahkah kau melihat kolom komentar pada sebuah situs? Sebuah berita? Aduh, disana ada lautan manusia yang datang entah dari mana. Dengan identitas maya tak telisik.
Bahkan, setiap kali aku menonton suatu video di youtube, saat buffering, aku sangat menikmati kolom komentar dibawahnya. Seru sekali, banyak yang saling menghujat, menghina, bahkan setelah panas dan berapi-api.
Para pengomentar mulai bicara masalah SARA.

Itu Cuma salah satu contoh amatir dalam kehidupan yang serba dilematis moral ini.
Dalam kehidupan ini, kadang kita akan menemui orang-orang yang bermuka hangat dan senyum yang menyeringai diwajahnya. Namun, kalau beruntung, kau juga akan menemukan orang yang melotot dan berteriak memakimu. Aku seratus persen yakin. Kita semua sudah pernah menemui mereka. Bahkan kita sendiri boleh jadi menjadi pemain salah satu diantaranya, atau malah pemain dengan peran ganda. Multitalent. Ababil.

Lihatlah dalam pertemanan, terkadang teman kita sangat baik kepada kita. Menemani di setiap jengkal langkah, ikut mengisi lembaran kosong kertas diari dengan lembaran cerita bahagia. bahkan, kalian juga mempunyai musuh, yang selalu menspionase diri, untuk melihat celah demi menghardik.

Bagaimana cara kita bertindak dengan hal itu? terkadang saat menjadi musuh seseorang itu, tak dapat ditapik, celaan datang menghujami diri kita. Bahkan, teman dekat kita sendiri seringkali berkata yang menyakitkan dengan diri kita. meskipun, terkadang orng-orang di sekitar kita tak bermaksud menyakiti, tapi urusan hati siapa yang tahu.

Ada orang yang sangat perasa, aku tak peduli kelaminnya. Sebaiknya, jangan terkecoh dengan stereotif bodoh manusia, yang mengatakan biasanya wanita itu perasa, tak berlogika, sedangkan laki-laki itu berlogika, dan tidak perasa. 

Bagi saya, itu adalah salah satu kebodohan besar mengenai persepsi yang masih dilestarikan hingga saat ini. Hati itu tak mengenal kelamin. Ia bekerja begitu saja.

Kata-kata yang keluar halus dan lambat bisa merobek menghunus hati dengan kejam. Namun terkadang kata-kata yang kasar dan keras malah membuat hati berbunga-bunga. Sebab yang dilihat bukanlah bagaimana cara pesan disampaikan, tapi apa makna pesan yang disampaikan. Dan bukanlah melihat siapa yang bicara, tapi lihatlah isi yang dibicarakan.

Dalam bermain sebagai aktor dikehidupan, Berbagai kritik dan komentar bagaikan hujan batu dari langit untuk kita. tinggal bagaimana diri kita, ingin dihujani oleh batu itu dan terluka berdarah. Atau ingin berlindung didalam goa yang gelap.

Saya pribadi, saya ingin menjadi gunung yang terbentuk dari hasil tumpukan hujan batu itu. menarik sekali. kita tak akan terluka, malah kita akan semakin besar dan kokoh. 

Terkadang, kita perlu menguatkan hati kita. dengan memahami bahwa kritik dan ketidaksukaan pada diri kita akan selalu hadir. Kalau kita ingin menengok hal-hal negatif yang disuarakan oleh orang-orang yang pandai bersilat lidah disana, saya jamin, tak akan lama kita hidup, yang ada diri akan diinjak dijadikan tumbal ketidakmapanan dunia ini.

Jadikan kritik pedas dan ketidaksukaan seseorang kepada kita menjadi penyemangat, bagaimana bisa? kuatkan hati, terima diri apa adanya. Tutup hati, jangan biarkan mereka menyakiti hatimu karena ketidaksukaan mereka. Ingat, kalau kau ingin membiarkan kau tertawa. Kau akan tertawa. Tapi kalau kau tak mau hatimu terluka, jangan biarkan terluka. Kuatkan hati. Dan akui kekurangan diri, karena memang kita sebagai manusia adalah tak sempurna secara fisik dan secara jiwa. Bukan lantas merendahkan diri kita, jangan. Hidup ini bagai belati dimana-mana. Jangan terbang terlalu tinggi jangan pula terlalu rendah. Biarkan kita hidup sesuai dengan alur dan tempatkan diri seproporsional mungkin.

 Persepsi seseorang terkadang sangat menyakitkan. Mereka terkadang sangat tahu dimana letak kekurangan seseorang. Tapi, lihatlah diri mereka sendiri. Terkadang banyak orang yang mengkritik dan tak suka dengan orang lain, agar kita nampak buruk karena keburukannya sendiri. Percayalah celaan tidak berguna. Tapi saran dan nasihat disertai dengan rangkulan menuju titian cahaya adalah hal absolut kebaikannya.

Jangan hanya melihat sisi buruk diri kita. jadi kan sisi buruk sebagai hal terindah yang dianugerahkan oleh yang Ada kepada kita. sebagai berkah. Kita sering diiming-imingi oleh kesempurnaan semu, yang dirancang dan dirakit oleh kumpulan manusia yang ragu akan kesempurnaan itu sendiri.

Yakinlah, bahwa kita adalah orang dan bentuk yang paling sempurna dari versi jiwa kita. Meski begitu jangan tonggak melihat persepsi orang. Berkacalah terlebih dahulu, apakah kita sudah benar-benar benar saat ini. Jika memang kita tak baik, dan hanya sebagai pelarian hati yang acak-marut cobalah perbaiki diri kita. menuju matahari dan cahaya yang menerangi.

Saya paham. Yang kenal saya adalah diri saya sendiri. Yang menjalani hidup saya adalah saya sendiri. Yang merasakan dampaknya juga diri saya sendiri. Orang lain hanya figuran, pun kalau beruntung mereka antagonis, atau saya yang lebih suka menjadi antagonis. Begitupun kamu, dia, dan mereka. Gunakan semua potensi diri, sisi positif.

Terus mencari keseimbangan hidup di dunia. Bukankah harta dan kesempurnaan yang membuat bahagia di dunia? Tak semua orang gila dengan harta dan kesempurnaan. Karena bukan itu, bukan itu keseimbangan dan kebahagiaan yang hakiki dalam titian jejak di bumi berkarat ini.

Salam, selalu bahagia. jadikan orang-orang yang tak suka kepadamu sebagai pemberi semangat.

Terkadang orang-orang yang bersorak-sorai memujamu dan orang yak berteriak memaki-maki adalah sama. Apa bedanya. Mereka tak sama sekali berbeda, mereka sama. Sama-sama berisik.

Pada akhirya, sang guru berkata pada muridnya,
“Nak, ingatlah orang yang berbicara mengenai keburukan orang lain, sesungguhnya dialah orang yang lebih buruk.”
SHARE

Milan Tomic

Hi. I’m Designer of Blog Magic. I’m CEO/Founder of ThemeXpose. I’m Creative Art Director, Web Designer, UI/UX Designer, Interaction Designer, Industrial Designer, Web Developer, Business Enthusiast, StartUp Enthusiast, Speaker, Writer and Photographer. Inspired to make things looks better.

  • Image
  • Image
  • Image
  • Image
  • Image
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments: