Beberapa hari yang lalu, aku mendapat kabar kalau teman dekatku—momot—memperoleh IP sempurna. Alias 4.0. tentu saja, aku merasa senang atas keberhasilannya.
Bahkan, aku saja sampai merasa sangat beruntung mempunyai teman sepintar itu. sampai-sampai iri, kalau dekat-dekat dengan si momot ini rasanya ingin kutampar saja mukanya, huh. Hahaha
Bukan Cuma teman dekat SMA ku yang mendapat IP pertama yang sempurna tapi juga beberapa teman sejurusanku, bahkan tampaknya sahabat dekatku—firdaus—akan menuai kepuasan melihat IP pertamanya. Selamat-selamat ya matahari. ah, rasanya aku sampai tak habis pikir.
Sempurna sekali. mungkin aku juga tak akan pernah mendapatkan nilai sesempurna itu, yah.. sadar diri juga, aku memang tak terlalu pandai. Banyak sekali, hal-hal di dunia ini yang menuai persepsi ganda dalam hidup, walau pada ujung-ujungnya aku akan mendapatkan makna bulat tentang suatu hal yang diiringi oleh ketidakpastian alam untuk diprediksi, alias takdir yang tak mampu dibaca oleh kita.
Termasuk, hal-hal akademis seperti ini, Indeks prestasi kumulatif. Sebaiknya kita berhati-hati dalam mempersepsi suatu hal, karena bukan cara kata bicara yang dilihat tapi cara kita berpikir tentang sesuatu yang penting. Bagi saya pribadi, semua hal itu tidak terjadi dengan faktor kebetulan, semuanya terjadi atas konsesus alam yang telah direncanakan oleh tuhan. Artinya tak ada kejadian yang terjadi Cuma-Cuma, semuanya sudah ada dalam guratan kitab takdir sang ilahi.
Apakah memiliki IPK tinggi itu harus?
Sebaiknya berpikirlah dahulu baru dijawab, mungkin sebagian orang berkata IPK itu penting, mau tak mau. Kalau ingin diakui pintar dan cerdas, sudah menjadi syarat mutlak memiliki IPK tinggi. Bahkan saat lulus, banyak diantara kita ingin wisuda dengan predikat cumlaude. Bahkan hampir dari semua rekan saya di UI, kalau ditanya ingin cumlaude atau tidak? Sudah pasti jawaban “yes” adalah bunyi mutlak yang kudengar.
Meski, tak semuanya begitu. Ada saja, yang sudah rendah diri bilang “yang penting lulus” yang bilang begini biasanya memang punya persepsi tersendiri, yang aku pun tak paham bagaimana.
Bukan apa-apa. Sekarang mau apa-apa. IPK yang dilihat. Coba kau lihat di larik kolom surat kabar. Ada limitasi. Ada batasan. Minimal IPK 3.3 lah, Dan sejenisnya. Aduh. Susah juga cari kerja ya kalau IPK rendah. Hmm, kalau yang ini perlu riset mendalam. Sebab masalah rezeki terkadang bukan sesuatu yang bisa diduga.
Semua bisa kita tilik juga, kadang di universitas terkenal IPK rendah tak jadi masalah. Tapi, kadang masalah juga sih. Aduh brengsek sekali. Bukan Cuma itu. ingin dapat beasiswa saja, IPK sudah mesti jadi indikator. Bangsat sekali.
pendidikan itu memang mahal, UKT tinggi, sampai-sampai rekan-rekan kita ingin jual ginjal untuk bayar kuliah. Tapi kalau tak pintar alias tak punya IPK sesuati standar minimal yang ditentukan, sudah pasti si mahasiswa tak dilirik oleh si penjebret beasiswa. Jadi harus bagaimana? Berarti kalau bego terus miskin tidak bisa sekolah, hmm... tidak juga. Pasti ada jalan untuk berusaha. Terkadang kita tak melihat cahaya pada pintu keluar karena kita dibutakan oleh kegelapan dari pintu lainnya.
Jadi, IPK penting banget dong?
Masuk ke pembahasan kita, menurut saya. IPK itu bukan hal mutlak yang harus dikejar oleh seorang akademisi, meskipun kita juga harus sadar bahwa IPK adalah pengukur terhadap kemampuan mahasiswa. Terkadang, dosen juga sembarangan lho.. mereka tidak pernah benar-benar bisa mengukur kemampuan mahasiswa dan menempatkannya pada level yang seharusnya. Semuanya serba ditentukan oleh karakter si Dosen. Saya saja berpikir lebih enak kalau guru yang mengajar. Hahaha.
Seperti halnya kasus saya, saya bisa kuliah di UI karna beasiswa bidikmisi dari kementrian pendidikan. Jadi, sebagai rasa syukur, mestinya saya belajar untuk memperoleh ilmu. Nah, ilmu tadi yang akan direflesikan ke bentuk IPK. Ayolah, IPK hanya bilangan desimal. Apa itu yang kau cari selama kuliah? Tentu saja tidak, mahasiswa sudah cukup cerdas bukan. Jangan sedih kalau IPK mu tak sesuai dengan harapan.
Menjadi tidak bijak bagi kita, untuk melihat IPK sebagai satu-satunya indikator kecerdasan seseorang. Apalagi minsalnya, dalam dunia kerja. Nilai tinggi belum pasti membuktikan kehebatan personal manusia dalam bekerja. Bagaimanapun juga, ilmu adalah hal fundamental yang harus dikejar seorang akademisi. Bukan laporan ringkas berisi angka angka desimal yang diperoleh dari simbolisasi abjad ABCD. Jangan sedih kalau IPK kecil. Tapi, IPK juga jangan sengaja dikecil-kecilin. Maksud saya, setidaknya berusahalah dengan keras.
Kesuksesan tidak diraih dengan semena-mena, tak semua orang mampu berdiri diatas menuju anak tangga terakhir, tanpa melalui sebuah usaha dan perjuangan, aku tidak yakin kau akan bisa menghargai hal kecil yang mungkin kau punya saat ini. Skill dan ilmu lebih penting daripada IPK. IPK itu bisa dirubah, bisa diotak-atik, tapi kemampuan dan ilmu yang didapat saat belajar lebih penting dan melekat.
Untuk apa seorang Sarjana Kedokteran dengan IP 4.0 Tapi, tidak peka dengan keadaan pasien, tidak luwes dengan pasien yang ingin berobat dengannya, cemberut padahal pintar. Yang ada pasiennya kabur. Itukah namanya sia-sia?
Jadi, teman-teman. Lakukan segala sesuatu pada porsinya. Jangan lebay. Jangan juga pemalu. Kalau memang ingin punya IPK tinggi, juga harus dibarengi dengan usaha sendiri sehingga IPK yang diperoleh bisa mereflesikan ilmu yang telah diperoleh. Pun, jangan dipaksakan kalau memang tidak mampu, namun harus ada usaha terus menerus untuk memperbaiki kualitas diri. Sehingga bisa sukses, mampu membawa bangsa menjadi lebih baik.
Ingat, ingat. Hidup kita bukan hanya untuk IPK, banyak hal yang mungkin lebih besar dan lebih hebat diluar sana. Jalani hari-hari dengan kebahagiaan dan rasa syukur. Jangan pernah serahkan mimpi-mimpi yang telah disematkan di hati untuk sekedar kesenangan yang tak bertuan.
Semoga, kita bisa menjadi pemuda-pemuda bangsa yang cerdas dalam bertindak. Oh, iya IP saya lumayan bagus. Maklum IP pertama, saya tidak berharap juga bisa dapatkan IP besar-besar. Tapi, seingat saya, saya mau berhasil dalam sesuatu yang saya tekuni nanti. Biar, saja puzzle-puzzle masa depan itu kususun satu-satu.
Biarkan alurnya mengalir, dan diri kita masing-masing sebagai pemeran utama. Semangat. Ada bintang yang telah lama mati ada bintang yang belum juga mati.
- Blogger Comment
- Facebook Comment
Subscribe to:
Post Comments
(
Atom
)
0 comments:
Post a Comment