Testimoni Cinta Dalam Kolom Jurnal
Hal apa yang membuat aku cukup berani menuliskan kata ‘cinta’.
Mm, maksudku.. ‘cinta’ ya ‘cinta’ yang itu. yang benar-benar cinta, bukan cinta sembarangan. Rasanya sudah cukup banyak referensi hidupku mengenai cinta.
Meski aku tidak tahu apa itu cinta yang sebenarnya. Cinta itu tak terdefiniskan. Cinta ya cinta mas. Kalau mau dijelaskan, aku yakin repot sekali. karena tak peduli berapa banyak kata dan bahasa yang diciptakan oleh bangsa manusia. Tak ada yang benar-benar bisa merangkaikan makna cinta yang tengah mereka rasakan.
Aku ingat pertama kali aku pacaran.
Dan aku yakin ini bukan pacaran. Kelas 4 SD, waktu itu aku yang nembak. Aku mengiriminya surat, namanya Ayu—teman se-genk ku. Tapi, kita putus. Hari itu juga. Hari dimana kita jadian, kira-kira kurang dari 5 jam.
Teman-temanku tertawa melihat kami. Haha, aku tergelak kalau mengingat cerita itu, aduhai betapa genitnya aku saat itu. berani-beraninya aku mengirimi anak gadis orang sebuah surat yang berisi tentang cinta. Yang pada saat itu aku juga tidak mengerti apa itu cinta? Apa itu pacaran. Aku merasa benar-benar kotor...
Yang aku tahu, pacaran itu ya antara laki-laki dan perempuan. Yang pasti akan menikah. Yang pasti mereka saling mencintai. Dan yang pasti akan hidup sampai tua. Sampai pergi, Sumpah, polos sekali masa kecil itu. aku ingin kembali polos. Aduh, sembarangan sekali permintaanku ini. Aku tak lagi polos, sudak kotor, karena perjalanan cinta. Edan.
Aku masih pada proposisi awal tadi, aku tidak mengerti apa itu cinta. Cinta ya cinta, mbak. Meski aku tahu ada beberapa gadis yang mesem-mesem melihatku saat di kereta. Ada perempuan yang bilang cinta kepadaku setelah aku tersenyum padanya.
Aku Cuma penasaran. Aku ingin bercinta, tapi aku merasa aneh dengan arti indrawi tentang cinta itu. ah, jangan tanya aku mengenai pengalaman seks dihidupku, banyak sekali. pelacur. tapi tak enak saja menceritakannya dalam konteks budaya tinggi di wilayah timur, katanya.
Tapi, tak kusangkal. Aku pernah dicium oleh teman sebangkuku. Dia lelaki. Haha. Lucu memang. Jangan tanya kenapa? Dan jangan libatkan dengan hal negatif, sebab aku sendiri tak mengerti waktu itu. aku Cuma merasa itu simbol kedekatan kita sebagai ‘teman sebangku’ ahhh, aku pelacur sekali waktu kecil. Jangan tanya lagi, bagaimana dicium lelaki kecil itu. tidak enak.
Tapi aku suka waktu itu. itu seperti menantang sekali. bayangkan itu kelas satu SD. Aku belum punya otak. Sekarang? Mungkin..
Tapi setelah aku mengerti, aku tak melakukannya lagi. aku menyesal. Hahaha. Itu ciuman pertamaku. Bangsat.
Jatuh cinta itu tak bermusim. Tak berbentuk. Tak mengenal dimana ladangnya, tak tahu dimana tumbuhnya. Artinya kita bisa jatuh cinta, jatuh cinta kepada siapa saja, dan dengan semua keabsolutan atau keabsudran kondisi yang mencintai dan yang dicintai.
Jatuh cinta tidak mengenal kriteria, artinya jatuh cinta bukanlah seperti melamar pekerjaan, yang butuh syarat, yang butuh ijazah.
Jatuh cinta bisa kepada siapa saja. Kita tidak tahu lho, kalau seorang sopir mungkin sedang jatuh cinta kepada penumpangnya.
Atau seorang anak remaja sekolah yang tersenyum kegirangan melihat gurunya didepan, karena ia jatuh cinta, atau seorang ibu rumah tangga yang menangis di kamar mandi karena ia jatuh cinta pada lelaki lain.
Bagaimanapun juga, jatuh cinta punya jalannya masing-masing.
Seorang teman dekat saya, diam-diam mendatangi saya, dan bercerita kalau ia jatuh cinta pada seorang kakak kelas. Bagaimana bisa? saya saja, tak yakin teman saya ini pernah bicara langsung dengannya. Sampai sang pujaannya lulus pun, teman saya tadi tak bilang kepada orang itu. kalau ia jatuh cinta. Alah, sedih ya.
Cinta itu seperti virus yang bergulir bukan pada piranti saja, ia bergulir tak mengenal sebab dan musabab karena apa dan mengapa.
Ya, seperti jejakku ini, aku jatuh cinta pada seorang penyair, yang bahkan tak kutahu bagaimana kepribadiannya, ia tak terkenal, tapi aku jatuh cinta. Semudah itukah? Jangan tanya aku. aku pun tak pernah paham apa persepsi hati.
Aneh sekali. yah, mungkin mbak, mas, lebih berpengalaman tentang perasaan cinta. Tapi, apa pengalaman memberikan jaminan terhadap pemaknaan cinta itu. karena cinta bukan berkutat pada kuantitas, tapi yang lebih prima ada kualitasnya.
Sekedar bertanya-tanya, lihatlah buaya. Buaya hanya memiliki satu pasangan dalam hidupnya, buaya bermonogami. Meski sang betina akan mati, ia tetap akan setia pada pasangannya. Indah sekali bukan? Tapi ironisnya, malah buaya yang jadi lambang ketidaksetiaan dan pengkhianatan. Seperti persepsiku, cinta itu tak bisa dibudayakan pada hambatan. Lalu, apa cinta tadi bisa hadir pada yang lainnya.
Dalam agenda poligami. Atau menyelingkuhi. Cinta itu rumit, mungkin. Rumit karena manusia yang mengartikannya. Mengartikan bahwa cinta bisa seperti itu-dan ini.
Aku kadang bingung juga, melihat orang yang berpoligami.
Sanggupkah ia membagi cinta? Aduh, terasa sekali aku tak paham rasa cinta. Banyak idealisme, banyak kepercayaan yang juga mengartikan tentang cinta. Tapi, tak semua orang berpemahaman yang sama dengan ide utama sebuah pemahaman, bukan?
Aduh, kenapa saya jadi begini ya, carut-marut mengupas cinta. Kebablasan. Kelepasan.
Pernahkah kalian jatuh cinta pada pandangan pertama?
Aku benar-benar tak yakin dengan pendapat itu, atau malah aku belum menemukannya.
Sumpah, terkadang aku sebal sendiri dengan film-film dan sinetron yang kutonton, bisakah? Menemukan cinta semudah menabrak orang? Wah, ini benar-benar penggambaran cinta yang tak akan aku mengerti sepanjang masa penghidupanku. Haha Katanya, pada pandangan pertama itu bukan cinta. Tapi nafsu. Tapi bukankah cinta juga mengandung unsur nafsu? Membingungkan, memang.
Katanya juga, dari mata turun kehati.
Aku makin tak paham.
Tapi, begini saja, bisakah kau jatuh cinta setelah melihat seorang yang cantik? Bisa ya, bisa tidak. Kenapa bisa ya, bisa tidak?
Nah, berarti jatuh cinta itu dibumbui oleh persepsi maknawi dan indrawi. Banyak orang yang jatuh cinta karna fisik. Karna kecantikan. Bangirnya hidung, putihnya wajah, besarnya pinggul dan dada.
Atau Karna ketampanan. Karena si lelaki tinggi besar, dompet tebal, berdasi. Kemapanan dan ketampanan. Benar-benar ini mungkin menjadi pengukur. Tapi, tak sedikit orang yang jatuh cinta karena kecocokan. Kepas-an. Ketersinambungan perasaan, hati, dan jiwa. Merasa terlindungi, damai karena mereka memaknai.
Rasanya, perlu ditimbang-timbang lagi. tidak munafik bahwa jatuh cinta juga tak mungkin hanya melihat makna sebuah hubungan hati, banyak hal juga yang harus dipertimbangkan. Semua ada pada persepsi kalian.
Buat saya sebagai lelaki, saya tak membutuhkan kemolekan perempuan, kecantikan, kelangsingan, atau keputihan—ke-putihan.
Mungkin saya tak menapiknya, yang saya benar-benar cari tentang cinta adalah cinta. Cinta yang sebenarnya, mbak, mas.
Saya tak mau cinta sembarang. Artinya, saya ingin cinta dimana pasangan saya tak saya batasi bagaimana bentuk fisiknya. Saya mau seseorang yang mencintai saya, karena ia jatuh cinta. Bukan orang yang mencintai saya, karena saya ingin jatuh cinta, atau karena ia harus mencintai saya. Kalau persoalan fisik, saya serahkan pada yang maha ada. Sebab, saya paham. Semua itu indah,
Salah seorang teman saya, sangat mengidolakan seorang anggota boyband, mungkin dia sangat fanatik, cinta mati, sampai-sampai ia benar-benar gila dibuat anggota boyband itu. namanya saja dibubuhi nama belakang si artis.
Dia jatuh cinta? Jangan tanya saya. Saya tidak tahu. Teman saya ini, sampai tahu semua anggota keluarga si artis. Apa kesukaannya. Apa ketidaksenangannya. Dia maha tahu. Dia tahu semua tentang si Artis. Aku saja bingung, bagaimana ia bisa segila itu.
Akhirnya aku menyadari, bahwa cinta tak mengenal batasan negara, batasan laut, darat, udara, cinta memang seperti itu saja.
Melaju lewat internet yang terkoneksi. Melihat lewat layar kaca. Ia jatuh cinta.
Sampai sekarang, kalau bertemu, ia terus ngotot bilang kalau ia akan pergi ke negara si anggota boyband itu, dan menikah dengannya. Saya, saya Cuma menampar teman saya itu. Kalau-Kalau dia masih kesurupan.
Apakah jatuh cinta itu orang pacaran? Belum tentu.
Cinta itu perlu dirasa-rasa. Perlu diraba-raba. Perlu diuji. Bukan hanya fonologi yang terucap lewat kata-kata. Bukan sekedar bilang ‘jadian, yuk?’ atau kebablasan bilang ‘aku mau mati demi kamu’ padahal baru kenal 3 bulan. Baru sms-an 3 hari.
Tapi, ada juga hal serupa. Seorang tetangga saya, jatuh cinta dan menikah via handphone. Maksudku, bukan ijab kabulnya telpon-telponan sama penghulu. Tapi, mereka berkenalan, pacaran, bilang sayang, beib, dan sejenisnya, lewat telpon. Setelah akhirnya 3 bulan selanjutnya memutuskan untuk bertemu dan melakukan hal-hal yang menghebohkan. Hehe.
Mau tahu ceritanya?
Aduh, itu benar-benar top 10 cerita cinta tragis dalam jurnal perjalanan hidupku. Akhirnya si cewek ini hamil, wah.. jadi mau tak mau harus nikah. Padahal, setelah itu ia baru tahu kalau ia adalah calon istri kedua. Pilihannya ada, mau dihujat karna hamil tanpa bapak. Atau mau nikah dulu jadi istri, pun kalo kesel baru cerai jadi janda. Selesai. Akhirnya si pemain cinta memilih pilihan kedua, menikah dan minta cerai.
Banyak, yang pacaran tapi hanya status, Banyak yang pacaran Cuma cari kemaksiatan, Inilah penganut hedonisme. Kalau bisa, pacaran jangan terlalu sering-sering. Waspadalah dalam memutuskan. Bukan berarti sering pacaran, berarti kau semakin dewasa. Itu malah, mengindikasikan kau tak pandai membina suatu hubungan. Boleh jadi, kau jatuh cinta. Tapi cinta itu semu. Banyak sekali teman-teman yang merasakan cinta yang semu. Bingung, ini cinta apa bukan? Aku suka apa tidak?
Pada akhir kisah seperti saya, pacaran kurang dari 5 jam. Menyedihkan.
Jatuh cinta boleh-boleh saja. Sebab, ini sebuah urusan hati. Hati manusia tak benar-benar mengerti dimana arah dimana batas. Sebab dia dikendarai oleh relasi yang dependen, sebab manusia anti-statis.
Saya?
Pacaran?
Pernah.. dulu saya pacaran kelas 1 SMP, saya tembak dengan mode lama, surat.
Senang? Senang, banget. Gila, itu. tapi, setelah itu saya tak tahu kemana arah orang pacaran itu. Aduh aku tak mau lagi ceritakan kegenitanku yang merajalela waktu ingusan. Haha.
Setelah itu, saya juga pernah benar-benar tergila-gila pada seorang perempuan. Wajahnya teduh sekali, ahhhhhh bangsat. Wajahnya mengalihkan duniaku. Bitch!
Waktu, itu aku kelas 3 SMP. Dan ini lagi, aku berubah jurus, aku bilang langsung ke dia. Lagi-lagi ini menambah referensi pengalaman bercintaku, Aku ditolak. Haduh. Ceritanya memang lucu, aku tergelak sampai-sampai ini jadi tak sedih. Tapi waktu itu, aku sedih, pake banget! Karena itu, adalah kali pertamanya aku merasakan apa itu ARTI CINTA BERTEPUK SEBELAH TANGAN.
Salahnya, mungkin karena dia cantik sekali. dan aku jelek sekali. andai saja kalian tahu, dia adalah wanita tercantik yang pernah aku temui sejauh ini.
Bukan karna rambutnya yang panjang,
Bukan karna apa-apa. Bagiku dia benar-benar ahh.
Aku rindu. Tapi sayang, rindu dengannya sudah tak halal lagi bagiku. Baru-baru ini aku dapat kabar, dia sudah menikah. Haha. Kejar? Alah, ini bukan sinetron sayang.
Aku relakan dia, karena dia bukan jodohku, ayo move on! bastard
Sampai sekarang aku belum pernah benar-benar pacaran, meski aku jatuh cinta. Jera mungkin.
Aku tidak akan pernah pacaran sampai ada seorang perempuan yang kucinta bilang cinta kepadaku. aku phobia bilang cinta. Maksudku phobia, untuk ditolak lagi. yakinlah, ah aku tak yakin kau mengerti betapa mengerikannya pengalaman itu. kau seperti berada dalam the real disaster: patah hati.
Sampai dimasa terindah yang pernah kualami, highschool. Aku tak mau berpacaran. Tapi seringkali jatuh cinta.
Biarlah masa itu, adalah fase memahami dan memaknai hubungan. Bukan sekadar hal yang bernama cinta. Hei, mungkin sekarang kau sedang jatuh cinta? Ayolah, giliran kau yang berbagi cerita. Aku senang mendengarnya
Aku?
oh iya, Aku mungkin sedang jatuh cinta pada seseorang.
Mungkin ya, Dia benar-benar manis sekali. Aku tak yakin aku jatuh cinta, tapi seperti ada pancaran di matanya. Waduh, aku bosan sekali membuka rahasia ini.
Tapi, aku tak mau terburu-buru, alias merusak jalan cerita. Cerita ini terlalu indah untuk dimengerti dan diburu kelanjutannya. Mungkin saja, ini hanya gejala cinta yang semu. Atau saja, ini hanya sekedar kagum pada keluwesan cara dia bertingkah. Aku tak pernah benar-benar bicara kepadanya, dia benar-benar mempesona.
Tapi sudahlah, itu hanya sumpalan kesan pandangan pertama. Bukan benar-benar cinta di satu sore.
Sepertinya, aku cukup rampung bercerita. Aku senang kalau kalian jatuh cinta, tapi jangan sampai salah jatuh cinta, dan juga jangan merusak jalan cerita cinta dengan terburu-buru ya
0 comments:
Post a Comment