The Cold One


"Jam berapa?" Hanya dua kata itu yang terucap dari mulutmu selama dua jam disampingku

"Jam 04:04" Jawabku lirih,

Awal semester lalu, aku dipertemukan denganmu, kau tak pernah ramah, dan tak pernah benar-benar berbicara kepadaku. kalaupun bicara hanya formalitas yang tak lebih dari tiga kata,
"Jam berapa?"
"Ada pena?"
"Lihat bukunya."
"Hai."

Apa yang salah dengan hubungan ini, apa hubungan kita yang dimulai dari kompetisi akan selalu seperti ini, saling mencurigai, tak menegur satu-sama lain, sialnya takdir selalu mempertemukan kita pada minat yang sama. Membuatku diam-diam harus hidup dibawah sinar kehebatanmu yang membuatku jenuh.

Begitupun aku. aku merasa ada dinding tebal yang memisahkan dunia kita, membuatku sungkan bilang "Hai" membuatku malu bertanya, "Kamu ada masalah apa?"

Semua terjadi begitu cepat. sampai titik dimana kita saling menyerang tapi tak saling mengalahkan satu sama lain.

Kamu tahu seandainya saja aku bisa memusuhimu terang-terangan dengan berkata, "Jangan panggil aku lagi," atau "Kau terlalu munafik untuk jadi temanku."

Realitasnya aku tak bisa, hubungan ini terlalu dingin untuk sekedar merangkai kalimat lebih dari tiga kata, pun terlalu sulit untuk mundur dari beberapa jengkal kematangan ini.

***
Siang itu aku melihatmu duduk di kursi belakang. kau diam, aku berlalu, sengaja tak menyapamu lagi. Aku tau, kau tak berminat berkomunikasi denganku.

Aku tak mau memikirkan hal-hal itu, aku jenuh. Biarkan hubungan kita tak menemui kepastian, aku bingung meneruskan hubungan ini, disisi lain aku tak mau terlihat rapuh memohon kepadamu untuk menjadi temanku.

"Boleh aku pinjam bukumu." Ajaib empat kata, baru kali itu kau mengucapkan empat kata kepadaku. Meskipun ekspresimu sama sekali tak membantu mencairkan suasana.

Kau seperti es, dingin sekali. kau tak pernah hangat tersenyum ramah dan menyapahku. Jika engkau mati esok hari, yang bisa kuingat darimu adalah, kata-kata datar, dingin, dan tak ramah kepadaku.

Lagi pula apa peduliku? Aku tak membutuhkanmu sebagai temanku. satu-satunya alasan karena aku tertarik kepadamu, kau seperti misteri bagiku. seperti buku yang hanya mampu kubaca judulnya saja, aku tak tahu apa yang ada dalam buku itu, seperti kamu, hampir setahun bertemu denganmu, aku tak mengerti siapa kamu. Sial, aku menyukai sifat dinginmu itu.

Kita memiliki banyak persamaan, aku menyukai komedi, kau serius. aku menyukai musik, kau menyukai ketenangan. aku berbicara, kau diam. aku pintar, kau kritis. aku baik, kau jahat. aku ramah, kau jahat. aku menganggap kita sama, aku seperti melihat kita akan menjadi teman baik, tapi penglihatan itu teramat subjektif untuk diriku sendiri. aku merasa semua berubah, kita tak mungkin menjadi teman,

Seandainya aku bisa mengatakan "Bolehkan kita menjadi teman yang sebenarnya?" tapi itu tak mungkin kukatakan, karna kata-kata itu lebih dari tiga kata.
SHARE

Milan Tomic

Hi. I’m Designer of Blog Magic. I’m CEO/Founder of ThemeXpose. I’m Creative Art Director, Web Designer, UI/UX Designer, Interaction Designer, Industrial Designer, Web Developer, Business Enthusiast, StartUp Enthusiast, Speaker, Writer and Photographer. Inspired to make things looks better.

  • Image
  • Image
  • Image
  • Image
  • Image
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments: